PUISIKU

SEBUAH GARIS LURUS DI PAPAN TULIS

 

Ini adalah hari pertama masuk sekolah,

Seharusnya papan tulis masih bersih

tapi ada garis lurus di sana

mungkinkah ini warisan guru setahun yang lalu?

 

anak-anak mematung di kursinya,

tatapannya lurus menghunjam padaku,

“Apakah Bapak juga akan mengajari kami,

  membuat garis lurus di otak kami?”

 

memangnya kenapa?

 

“semua guru mengajari kami,

  membuat garis lurus di otak kami,

  sehingga kami kini berjalan bagai robot,

  lurus patah-patah,

  kami butuh dinamika, butuh lengkung,

  biar kami kenal apa yang namanya ombak,

  angin, badai, dan perselingkuhan,

  imajinasi kami mati karena

  semua guru hanya mengajari kami

  membuat garis lurus!”

 

tiba-tiba seluruh pemandangan jadi lurus,

meja lurus, kepala sekolah lurus, mata lurus,

hati lurus, mulut lurus, bibir lurus, hidung lurus,

mereka berbondong-bondong menuju

hari kiamat.

 

Februari 2004

—————————————————————————————————

SEPATU DALAM OTAK ANAK-ANAKKU

 

sepatu itu selalu ada di kaki,

kata anak-anakku,

dan dibuang ketika usang,

ganti yang baru.

 

Suatu kali sepatu-sepatu itu

berbaris di pembuluh-pembuluh darah

kepala anak-anakku

seperti derap langkah pasukan

menuju medan perang

dengan senjata lengkap

 

Sebuah sepatu yang jantungnya robek berteriak

     “Mana guru yang mengajarkan

                         kebebasan berpikir itu?”

Sepatu lain yang alasnya dimakan rayap

membentak

            “ Mana guru yang mengajarkan

                        kreativitas itu?”

Sepatu kecil tetapi mulutnya lebar,

tak mau ketinggalan,

            “Mana guru yang mengajarkan

                                    puisi dan sastra itu?”

Sepasang sepatu yang sedang bercumbu

di pojok pembuluh darah otak kecil berbisik

            “Itu, dia sedang bercumbu dengan sepatunya!”

 

—————————————————————————————————–
PENJELASAN GURU TENTANG HER

 

tujuh puluh lima persen siswa kelas tiga

dinyatakan harus mengikuti program perbaikan

alias her… sosiologi.

beberapa anak yang telah kubekali

analisa data dan sedikit strategi debat,

datang pada guru itu dan bertanya,

            “Sebenarnya yang salah siapa sih, Pak!”

 

seperti biasa, setiap kali mengawali perdebatan,

mereka bersikap netral.

guru itu, dengan mantap menjawab,

            “Ya, kalian, kenapa tidak belajar sungguh-sungguh,

               ini akibatnya,

               lalu kalian menyesal, protes, tidak terima!”

 

mulailah mereka pasang strategi menyerang,

            “Tapi ini tujuh puluh lima persen, Pak!

               Berarti hanya sedikit yang berhasil.

               Jangan-jangan soalnya memang tidak valid!”

 

guru itu mulai merah telinganya. Nada bicaranya meninggi

            “Jangan buruk muka cermin dibelah.

              Refleksi. Renungkan. Lihat diri sendiri”

 

Anak-anak yang sudah kubekali strategi berdebat itu,

Mulai menggila. Mereka keluarkan buku catatan Sosiologi.

            “ Pak, catatan yang Bapak berikan sedikit sekali yang

               keluar. Kalau ada yang keluar, tidak cocok dengan

               catatan”

 

Guru itu mulai naik pitam. Terbayang kemarahan Kepala Sekolah

karena nilai murid-muridnya jelek. Masih lagi anak-anak yang

berani menuntut. Maka dengan nada tinggi, ia berteriak

            “Seharusnya kalian tahu bahwa guru bukan satu-satunya

              sumber belajar. Baca buku. Buka internet.

  Ikut bimbingan belajar.

              Les privat!!!”

 

6 April 2004

 

 

 

 

 

6 Komentar

6 thoughts on “PUISIKU

  1. 6:26 AM 3/15/2008 buat ana

    ‘ntah

    lelah tubuh mneyeret langkah
    di buramnya malam
    tangis menggema pecah di batu
    mengalir mengairi kalbu
    matahari tak menampakkan wajah menebarkan cahaya
    engkau kuntum hidup tanpa tega
    di jambang tangan, tak bernyawa
    ‘ntah bila…!?!
    ‘ntah bila…!?! aku bisa panen raya
    memetik semai yang pernah ada
    Ataukah di tangan tak bernyawa?
    ‘ntah
    matahari tak menampakkan wajah menebarkan cahaya
    meninggalkan nelangsa mendera
    namun pagi akan setia menanti mentari
    dan embun…

    By: Dhy3n

  2. catherine xd-10

    pak,
    puisinya intinya tentang kehidupan bukan???

    aq gak dong…

    ngerti sih dikit2…
    gk banyak..

  3. dhie_ant

    baguzz..
    pilihan katanya sederhana,tapi maknanya mendalam…
    It’s inspiring me…

  4. Pak, suatu saat sya akan siap mengalahkan puisi2 bapak… Sya bahkan sangat siap.
    Trima kasih.

  5. Georgia XF

    “…Mereka berbondong-bondong menuju hari kiamat”. Kata kata yang dalam serta bermakna khusus di akhir puisi bapak

  6. aletta xibb

    puisi tentang garis lurus menggambarkan kehidupan murid-murid dimasa sekarang.. bagaikan kehidupan yang monoton dan tidak pernah mencoba untuk keluar, walaupun kita tahu bahwa semakin kita lurus, membawa kita menuju hari kiamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: