PUISIKU 2

PENJELASAN GURU TENTANG HER 

tujuh puluh lima persen siswa kelas tiga
dinyatakan harus mengikuti program perbaikan
alias her… sosiologi.
beberapa anak yang telah kubekali
analisa data dan sedikit strategi debat,
datang pada guru itu dan bertanya,
            “Sebenarnya yang salah siapa sih, Pak!”
 
seperti biasa, setiap kali mengawali perdebatan,
mereka bersikap netral.
guru itu, dengan mantap menjawab,
            “Ya, kalian, kenapa tidak belajar sungguh-sungguh,
               ini akibatnya,
               lalu kalian menyesal, protes, tidak terima!”

 mulailah mereka pasang strategi menyerang,
            “Tapi ini tujuh puluh lima persen, Pak!
               Berarti hanya sedikit yang berhasil.
               Jangan-jangan soalnya memang tidak valid!”
 
guru itu mulai merah telinganya. Nada bicaranya meninggi
            “Jangan buruk muka cermin dibelah.
              Refleksi. Renungkan. Lihat diri sendiri”

Anak-anak yang sudah kubekali strategi berdebat itu,
Mulai menggila. Mereka keluarkan buku catatan Sosiologi.
            “ Pak, catatan yang Bapak berikan sedikit sekali yang
               keluar. Kalau ada yang keluar, tidak cocok dengan
               catatan”

Guru itu mulai naik pitam. Terbayang kemarahan Kepala Sekolah
karena nilai murid-muridnya jelek. Masih lagi anak-anak yang
berani menuntut. Maka dengan nada tinggi, ia berteriak
            “Seharusnya kalian tahu bahwa guru bukan satu-satunya
              sumber belajar. Baca buku. Buka internet.
  Ikut bimbingan belajar.
              Les privat!!!”
6 April 2004

----------------------------------------------------------------------------------

RUANG KOSONG

terlalu banyak ruang kosong dalam otak
anak-anak, 
mau diisi apa
ketika kegaduhan identik dengan tidak belajar
mau diisi imajinasi,
telah banyak undang-undang anti imajinasi
hingga pelajaran imajinasi
perlu dihapus dari pendidikan.
 
Terlalu banyak ruang kosong 
dalam otak anak-anak
ini sangat berbahaya,
banyak pihak berlomba ingin mengisinya,
lewat internet, lewat SMS,
lewat café, pub,

terlalu banyak ruang kosong
dalam otak anak-anak
karena  sekolah
telah lama mengistirahatkan otak
anak-anak

Maret 2003

----------------------------------------------------------------------------------
SEPOTONG CERITA DARI ALKID
 
dalam sepinya malam di Alun-alun Kidul
anakku bermain layang-layang,
betapa nikmatnya dipermainkan angin,
yang tak kenal lelah.
Nasib. 
Para penjaga menggerutu.
Kota terkesiap. ---- Orang tua sibuk 
mencari anak-anaknya di bawah kolong
tempat tidur ---ruang belajar---televisi ---komik--sekolah.
tempat tidur.
ruang belajar.
televisi.
komik.
sekolah.
mereka bertengkar, saling menyalahkan.
diskusi panjang.
di kampus, di koran, di hotel, ruang konsultasi.
riuh oleh perbincangan.
analisis.

Anak-anak berlarian entah ke mana.
Orangtua gelisah. Jam sudah kelewat malam. Peradaban sudah kelewat tertidur.
Hening.
Bungkam.
Sepi.
Kota hampir mati.
dalam sepi malam di Alun-alun Kidul, 
anak-anakku masih ramai bermain layang-layang.

Taman, 9 Oktober 2001
------------------------------------------------------------------------------------

TANGISAN SELEMBAR KERTAS
 

selembar kertas ulangan harian datang padaku 
dan menangis tersedu-sedu,
kutanyakan masalahnya,
mulanya dia enggan menjawab,
kudesak dia
akhirnya dia buka mulut
            “Aku telah saksikan kemunafikan,
             tipuan-tipuan pengetahuan,
              demi angka yang akan engkau berikan,
              kenapa moralitas dikalahkan,
              padahal itu intisari pendidikan kita!”
ingin rasanya kusobek kertas-kertas itu,
tapi ini sudah bulan Mei,
hampir kenaikan kelas,
kata Kepala Sekolah anak-anak harus naik semua
demi promosi sekolah

selembar kertas ulangan harian datang padaku
menawarkan sapu tangan merah jambu

 12 Maret 2003
--------------------------------------------------

SEPATU DALAM OTAK ANAK-ANAKKU
 

sepatu itu selalu ada di kaki,
kata anak-anakku,
dan dibuang ketika usang,
ganti yang baru.
 
Suatu kali sepatu-sepatu itu
berbaris di pembuluh-pembuluh darah
kepala anak-anakku
seperti derap langkah pasukan
menuju medan perang
dengan senjata lengkap
 
Sebuah sepatu yang jantungnya robek berteriak
     “Mana guru yang mengajarkan
                         kebebasan berpikir itu?” 
Sepatu lain yang alasnya dimakan rayap
membentak
            “ Mana guru yang mengajarkan
                        kreativitas itu?”
Sepatu kecil tetapi mulutnya lebar,
tak mau ketinggalan,
            “Mana guru yang mengajarkan
                                    puisi dan sastra itu?”
Sepasang sepatu yang sedang bercumbu
di pojok pembuluh darah otak kecil berbisik
            “Itu, dia sedang bercumbu dengan sepatunya!”

-------------------------------------------------------------------------

MENJELANG PERPISAHAN

I
seorang gadis 
pada saat perpisahan kelas tiga
membawakan setangkai bunga mawar untukku
“Pak, ini mawar merah yang kupetik
dari kebun percobaan kita!”
Lalu dia mencium pipiku
 
Hadirin ribut,
“Itu tidak sopan!”
“Itu skandal!”
“Tidak sesuai dengan etika ketimuran!”
“Melanggar kode etik guru!”

 di hadapan kepala sekolah,
kubuka satu demi satu kelopak mawar itu
dan
tak ada apa-apa di dalamnya
 
sekolah ribut lagi.
pendidikan tak menghasilkan apa-apa, katanya
pendidikan hanya memberi kekosongan, katanya
pendidikan hanya menghasilkan kemunafikan, katanya
pendidikan hanya menghasilkan manusia-manusia
dengan tingkat formalitas yang sangat mengkhawatirkan
katanya,
 
rekoleksi, sarasehan, seminar, lokakarya
semua tentang pendikikan
para pakar bicara
menganalisis, dan akhirnya membuat solusi
sistem harus kita ubah.

 II
seorang gadis 
pada saat perpisahan kelas tiga
membawakan setangkai bunga mawar untukku
“Pak, ini mawar merah yang kupetik
dari kebun percobaan kita!”
Lalu dia mencium pipiku
 
Lagi-lagi hadirin ribut,
“Itu tidak sopan!”
“Itu skandal!”
“Tidak sesuai dengan etika ketimuran!”
“Melanggar kode etik guru!”

 di hadapan kepala sekolah,
kubuka satu demi satu kelopak mawar itu
dan
tak ada apa-apa di dalamnya

 sekolah ribut lagi.
pendidikan tak menghasilkan apa-apa, katanya
pendidikan hanya memberi kekosongan, katanya
pendidikan hanya menghasilkan kemunafikan, katanya
pendidikan hanya menghasilkan manusia-manusia
dengan tingkat formalitas yang sangat mengkhawatirkan
katanya,

rekoleksi, sarasehan, seminar, lokakarya
semua tentang pendikikan
para pakar bicara
menganalisis, dan akhirnya membuat solusi
sistem harus kita ubah.

 III
seorang gadis 
pada saat perpisahan kelas tiga
membawakan setangkai bunga mawar untukku
“Pak, ini mawar merah yang kupetik
dari kebun percobaan kita!”
Lalu dia mencium pipiku

 Seluruh hadirin memberikan aplus panjang
“ Begitu mulia anak-anak kita!”
“Mereka tahu berterima kasih!”
“Anak yang tulus, bermoral, tidak munafik!”
“Rendah hati, tidak sombong!”

di hadapan kepala sekolah,
kubuka satu demi satu kelopak mawar itu
dan
bau harum memenuhi ruangan.

-------------------------------------------------------------------------
FIELD TRIP KE KEBUN BINATANG
 
sebagai bagian dari pembelajaran outdoor,
anak-anak taman kanak-kanak diajak pergi
ke kebun binatang,
“Ini singa!” kata guru Ima yang penyabar.
“Ini macan!”
“Itu monyet!”
“Itu kancil!”

 anak-anak taman kanak-kanak yang polos itu,
serius sekali mengamat-amati
segala binatang yang dikenalkan oleh guru mereka,
“Mereka juga belajar ya,Bu!” tanya seorang bocah.
“Tentu, mereka rajin-rajin!” jawab guru itu.
“Makanya mereka jadi singa ya, Bu!”
“Makanya mereka jadi macam ya, Bu!”
“Makanya mereka jadi monyet ya,Bu!”
“Makanya mereka jadi kancil ya, Bu!”

seorang remaja yang sedang pacaran
di pojok kandang macam,
tertawa-tawa dan berteriak
“Kancilnya itu lulusan fakultas hukum, lho!”
“Monyetnya lulusan fakultas psikologi!”
“Macannya lulusan STPDN!”
“Singanya lulusan …AKABRI!”

guru itu buru-buru mengajak anak-anaknya
berlalu dari hadapan mereka.
dan anak-anak kecil itu terbengong-bengong.
 
3 April 2004
-----------------------------------------------------------------

KETIKA KANCING BAJU BAGIAN ATAS LEPAS
 
seorang siswi terjaring tim kedisiplinan
gara-gara kancing baju paling atas lepas,
dia harus berhadapan dengan guru BK,
yang cantik namun punya keahlian menyelidik

 “jadi kamu lupa mengancingkannya?”
--- ya, bu, habis buru-buru sih, takut telat!---
“jadi, kamu sering telat?”
---- ya, sering bu, maklum rumah jauh pake bis!---
“sudah berapa kali kamu telat?”
--- lupa, bu, tuh ada di buku catatan pribadi!---

guru BK itu melirik, sedikit menyelidik,
dimainkannya bolpoint di tangan,
diputar-putar sebentar, lalu matanya menghunjam,
“sama siapa saja kamu telat!”
“terus kalau telat kamu kasih obat apa!”
--- kadang-kadang sama teman, kakak juga pernah…..
      ya, cuma berusaha bangun pagi-pagi, Bu!---
 
“jadi belum pernah diperiksakan ke dokter?”
---buat apa Bu, paling-paling dokter bilang aku anemia,
    lalu disuruh banyak istirahat, makan yang banyak,
    dan dia nulis resep, paling-paling vitamin C dosis tinggi,
   kalau nggak ya cuma B komplek.—

guru itu dengan lekuk kecil di pipi kirinya, diam sesaat. 
Janggutnya manggut-manggut
“ anak ini masih sangat polos!” katanya dalam hati.
“ Ya, sudah, kembali ke kelas, lain kali jangan diulangi!”
--- jadi saya tidak diskors, Bu?---

Gadis itu berlari-lari kecil keluar dari ruang BK,
buru-buru ia berlari masuk ke kelas,
maklum yang ngajar adalah guru idolanya,
masih muda lagi,
sambil senyum-senyum dia lepaskan dua kancing bajunya,
dan sedikit memelorotkan kaos dalamnya!
 
Awal April 2004
 

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: