SOSOK “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

Pokok materi berikutnya adalah membuat esai ulasan tentang karya sastra. Berikut ini saya berikan sebuah contoh tulisan sederhana (boleh disebut esai) yang didasarkan pada teori analisis intrinsik.

SOSOK “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

Sosok Maria dalam film Ayat-ayat Cinta menggelitik saya. Tentu saja, saya tergelitik dalam hubungannya sebagai pribadi yang memiliki keyakinan Kristiani. Namun, dalam tulisan ini saya tidak ingin mempersoalkan masalah “pindah agama” atau yang sejenisnya. Saya hanya ingin mencoba melihat secara jernih sosok Maria dalam kacamata analisis tokoh dan penokohan.

Gambaran sosok Maria sejak awal terlihat sebagai sosok yang Kristiani banget. Artinya, nilai-nilai hidup seorang Kristiani sejati tercermin dalam penggambaran tokoh Maria. Berpengetahuan, toleren, berani ambil resiko dalam menolong orang lain, berani mengalah, dan memiliki jiwa pengampun. Berikut ini akan saya coba kemukakan analisa pribadi saya atas nilai-nilai hidup yang diyakini oleh tokoh Maria dalam film tersebut.

Pertama, berpengetahuan. Sosok Maria dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok yang berpengetahuan. Ia tahu banyak hal, bahkan termasuk informasi-informasi agama di luar keyakinannya. Pengetahuan tersebut hidup dan dihidupi dalam rangka menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengetahuannya yang mendalam tentang agama lain tersebut, dalam pergaulannya dengan Fahri dan teman-temannya, ia bisa menempatkan diri secara tepat. Di samping pengetahuan yang luas, ia juga digambarkan sebagai orang yang lumayan pandai. Hal itu dapat dilihat dari adegan menganalisa permasalahan komputer Fahri dan memberikan solusi atas hilangnya file-file Fahri. Sungguh pandai sang sutradara menggambarkan nilai-nilai persaudaraan sejati dalam adegan-adegan ini.

Kedua, toleren. Sejumlah adegan menunjukkan bahwa sosok Maria merupakan sosok yang digambarkan memiliki jiwa tolerensi tinggi. Dia menghargai prinsip-prinsip agama lain dengan tidak mencuri-curi bersentuhan dengan Fahri (walaupun keinginan itu  begitu menggebu dalam hari Maria). Secara pribadi saya sangat tersentuh dengan penggambaran toleransi dalam adegan kehidupan Maria bersama dengan Fahri dan teman-temannya di tempat kost. Bagaimana Fahri dan teman-temannya (sebagai gambaran orang-orang nonmuslim mayoritas) memperlakukan Maria (sebagai gambaran minoritas di tengah-tengah mayoritas). Sungguh sangat indah! Dan tampaknya dalam film tersebut ”roh” toleransi tersebut dicoba untuk dipertahankan dengan adegan-adegan Maria dan teman-teman Fahri setelah Fahri menikah.

Ketiga, berani ambil resiko dalam menolong orang lain. Setidak-tidaknya ada adegan yang bagi saya cukup menyentuh yaitu ketika Maria dengan berani berusaha menolong seorang gadis muslim yang disiksa oleh orangtua angkatnya. Fahri yang begitu prihatin dan tersentuh dengan penderitaan perempuan itu tidak berani serta merta menolongnya. Dia meminta bantuan Maria untuk menolong. Dan tanpa berpikir panjang akan resiko-resiko yang akan diterimanya (termasuk pada akhirnya dia menanggung resiko akan dibunuh). Adegan ini menunjukkan betapa Maria memiliki ketulusan hati dalam menolong siapapun tanpa memandang agama dan tanpa memperhitungkan resiko yang harus ditanggungnya. Sungguh gambaran ideal seorang Kristiani sejati atau secara umum merupakan gambaran ideal manusia sejati.

Keempat, berani mengalah. Ketika mengetahui bahwa Fahri sudah beristri, walaupun dengan berat hati dan hancur, Maria menyingkir dari kehidupan Fahri dan Aisha. Keberanian untuk mengalah ini saya kira merupakan hakikat sejati dari cinta itu sendiri. Digambarkan dalam film itu bahwa keberanian untuk mengalah ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi sosok Maria sampai-sampai keluar darah dari tubuhnya. Mencermati adegan itu saya jadi teringat peristiwa di Taman Getsemani ketika Yesus harus berjuang untuk berani menerima kematiannya esok harinya demi cintanya pada manusia. Dan keberanian untuk mengalah ini dilakukan dengan tulus tanpa keinginan untuk memegahkan diri, terbukti Fahri tidak tahu.

Kelima, bersedia menyelamatkan orang yang telah membuatnya menderita. Upaya Aisha untuk mencari Maria didasari pada motivasi untuk menyelamatkan suaminya dari hukuman mati.  Kesaksian Maria menjadi kunci penyelamatan Fahri dari tuduhan pemerkosaan. Maria yang dalam kondisi sakit berjuang untuk hidup dalam kerangka menyelamatkan Fahri dari hukuman mati. Dalam pandangan saya, sebenarnya Maria telah memilih jalan untuk dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya berada dalam kondisi sakit dan akhirnya mati. Namun, motivasi untuk menyelamatkan Fahri-lah yang membuatnya tetap bertahan hidup dan memberikan kesaksian dalam persidangan. Tampaknya, Fahri menikahi Maria bukan pertama-tama karena cinta tetapi terlebih karena norma agama. Fahri tidak bisa menyentuh Maria karena dia bukan muhrimnya sementara Maria membutuhkan sentuhan itu untuk memperkuat semangat hidupnya. Dan saya kira, dalam adegan di rumah sakit ini tercemin sikap rela berkorban dari tokoh-tokoh sentral dalam film ini. Hanya saja, dalam pandangan saya, kadar ketulusan paling tinggi terdapat pada sosok Maria.

Keenam, rela berkorban. Dalam berbagai adegan saya menemukan sejumlah bukti bahwa sosok Maria merupakan sosok yang rela berkorban. Pengorbanan terbesar yang dia lakukan adalah meminta Fahri dan Aisha untuk mengajarinya shalat karena sebuah keinginan (atau tepatnya kerelaan) untuk bisa secara total bersatu dengan Fahri dan Aisha. Sebuah pengorbanan yang kiranya paling besar dalam sejarah manusia. Ada gambaran yang menggelitik saya, untuk menggambarkan betapa hebatnya pengorbanan Maria dalam adegan ini digambarkan adanya tetes-tetes darah yang jatuh ke tatto Maria. Ketulusan dan kerelaan yang kiranya tidak ada tandingannya.

Kalau kita mencermati adegan-adegan yang menggambarkan perwatakan tokoh Maria dalam film Ayat-ayat Cinta kita akan dapat menemukan banyak nilai luhur yang mengatasi penafsiran-penafsiran sempit sebuah karya sastra. Penafsiran atas karya sastra sebaiknya memang dilakukan secara menyeluruh, bukannya dipenggal-penggal. Bahwa pada beberapa adegan diselipkan ”pesan moral” ataupun ”pesan sponsor” khusus, kiranya hal itu wajar-wajar saja karena memang sangat sulit untuk membuat karya sastra netral senetral-netralnya. Toh harus kita akui bahwa karya sastra tidak muncul dari kekosongan, melainkan dari berbagai unsur nonsastra yang mempengaruhinya.

Pada sisi lain, tampaknya kita perlu menggalakkan lagi atau kalau sudah digalakkan ya… lebih digalakkan lagi pembelajaran apresiasi sastra sehingga akan semakin banyak orang yang cerdas dan bijaksana dalam menikmati karya sastra.

Semoga.

Categories: Tak Berkategori | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “SOSOK “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

  1. monica_xb

    Wah.. esai bapak bgs..

    Tp, menurut cernaan saya, bukankah setiap orang (walaupun agamanya bukan kristiani) juga bisa melakukan hal yang seperti itu? Bukankah tergantung manusianya juga? Bukankah di agama-agama lainnya juga tentu saja ada juga yang bernilai luhur seperti itu?

    Ohya pak..
    sekarang bapak kan sedang mencermati nilai-nilai ‘Maria’ lewat filmnya.. Nah bagaimana kalau saya tawarkan lagi ke bapak untuk membaca bukunya?
    Kalau seandainya bapak membaca bukunya hingga akhir, apa yang bapak pikirkan lagi tentang Maria? Tafsiran seperti apa yang dapat bapak pikirkan mengenai akhirannya.
    Karena, setelah saya membaca bukunya, saya terkejut karena mereka ternyata tidak memfilmkan cerita dari buku itu hingga akhir. Ada beberapa lembaran yang rasanya sengaja mereka hilangkan..

    Bagaimana menurut bapak? Bisa bapak kembali memikirkan dan mendiskusikannya ke kami? Karena ada kemungkinan pada akhirnya bapaka akan berubah pikiran tentang Maria setelah membaca bukunya. Bukankah bukunya itu merupakan sumber terjadinya film ‘ayat-ayat cinta’ itu sendiri? Tapi mengapa mereka tidak menampilkan secara keseluruhan bahkan memotong bagian akhir dari cerita itu?

    Ini cuma usulan loh pak..

  2. MAYANX

    menurut bpk maria itu berani mengalah shg merelakan fahri menikah, tp apkh semua itu dilakukan maria???
    menurutku itu tdk dilakukan maria SAMA SEKALI!!tak usah dipungkiri manusia kalo cinta PASTI ingin memiliki,
    bahkan maria malah kembali lagi kepada fahri dan menjadi istri kedua fahri, pdhal dengan menjadi istri fahri maria secra tdk langsung mericuhi rumah tangga fahri dengan aisyah.

    lalu bpk menulis dalam ajaran fahri jk prempuan bkan mukrim tdk boleh disentuh, mk fahri menikahi maria agar bisa sembuh dan menjadi saksi krn kekuatan cinta yg sangat besar,jk dengan begitu mudahnya maria sembuh trus DOKTER ga ada gunanya dong!!!!!mending Cinta aja yg suruh jadi dokter biar ga keluar uang untuk berobat!!
    omong kosong dengan kekuatan cinta!!segla hidup mati orang kan ditangan Tuhan?

    jk menurut bpk maria adalh seorang pengalah ya sudahlah setelah ia membantu fahri dari penjara dia langsung menyingkir lagi, walaupun sakit ati!!!

    tp jk aku jd maria aku minta fahri memberi kebebasan untuk aku kembali lagi ke agama kristiani dan aku tidak rela adanya poligami, mending fahri suruh milih MARIA atau AISYAH!
    alias diceraikan slah satu.
    dlam agama kristiani khususnya katolik pernikahan yang dilakukan secra islam, katolik, atau lainya tanpa adanya kesadaran dari salah satu mempelai dianggap pernikahan itu tidak sah!!dengan catatan slh satu pengantin harus kristiani..gak percaya tanya aja sama ROMO atau PASTUR….
    hehehehehehehe

  3. apa yang dilakukan maria tu keluar dari hati, apa yg ada dari hati itu merupakan bisikan Tuhan (cinta,kasih sayang,toleransi,dll), dan hingga ia pun berpindah memeluk Islam merupakan hidayah dari Tuhan. Bukankah jodoh semua orang sudah ada suratan jodohnya? entah menikah sekali, dua kali, mempunyai istri satu, istri dua sekalipun…asalkan semua dijalani dijalan yg benar…ingat bahwa semua sudah ada yg mengatur…yaitu Tuhan

  4. nah kan, komentator pada lebai alias berlebihan…😀
    secara pak Yoto pan lagi menulis ulasan pelem ditinjau dari karakter tokoh. jangan salahkan belio jika belio belom baca bukunya dunk…
    trus terlepas dari apa agama kalian, pan Pak Yoto ud bilang : meski ada muatan so(k)sial,,, sebab nyang bikin tu pelem beragama Islam. ngono lhoh…

    pak, keren nih. ulasan pelem ditinjau dari penokohan. jika memang kata mereka Anda salah penafsiran, ya wajar sebab Anda tidak membaca bukunya. saya sendiri kuciwa pada Hanung, pelemnya jauh genik dari bukunya. lumayan jauh dari alur. saya mengulas dari sisi alur dan jalan penceritaan dibandingkan dengan novelnya, sebab saya memang menonton untuk mendapat pengalaman visual dari karya Ayat-Ayat Cinta

    panjang, yah komentar saya😀 mokasi, pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: