Sepuluh tahun yang lalu, ketika saya mulai mengajar di sekolah ini, saya mengimpikan bahwa di sela-sela kesibukan saya mengajar (bayangkan 36 jam pelajaran per minggu) saya masih bisa menghasilkan tulisan-tulisan untuk dipublikasikan. Waktu itu….. rasa-rasanya tidak mungkin. Alasannya klasik, sebagaimana alasan-alasan orang lain : tidak punya waktu, tidak punya ide. Buntu!
Karena panggilan tanggung jawab saya sebagai seorang guru yang harus memberikan contoh, dan kebetulan saya mendapat tugas untuk mengajari anak-anak keterampilan berbahasa, saya mencoba mencari cara untuk tetap menghasilkan karya di sela-sela kesibukan saya mengajar di kelas. Dan pada akhirnya, saya menemukan sebuah “kunci” untuk berkarya. Kunci itu adalah apa yang disebut kreativitas dalam mengolah hal-hal sederhana menjadi sedikit istimewa. Contoh, suatu kali saya masuk kelas kemudian melihat seorang siswi yang kancing baju bagian atasnya lepas. Saya tegur dia. Ternyata……….. peristiwa itu bisa jadi puisi. Mau tahu puisinya?
seorang siswi terjaring tim kedisiplinan/gara-garkancing baju paling atas lepas,/dia harus berhadapan dengan guru BK,/yang cantik namun punya keahlian menyelidik/“jadi kamu lupa mengancingkannya?”/— ya, bu, habis buru-buru sih, takut telat!—/“jadi, kamu sering telat?”/—- ya, sering bu, maklum rumah jauh pake bis!—/“sudah berapa kali kamu telat?”/— lupa, bu, tuh ada di buku catatan pribadi!—/guru BK itu melirik, sedikit menyelidik,/dimainkannya bolpoint di tangan,/diputar-putar sebentar, lalu matanya menghunjam,/“sama siapa saja kamu telat!”/“terus kalau telat kamu kasih obat apa!”/— kadang-kadang sama teman, kakak juga pernah…../ ya, cuma berusaha bangun pagi-pagi, Bu!—/“jadi belum pernah diperiksakan ke dokter?”/—buat apa Bu, paling-paling dokter bilang aku anemia,/lalu disuruh banyak istirahat, makan yang banyak,/ dan dia nulis resep, paling-paling vitamin C dosis tinggi,/ kalau nggak ya cuma B komplek.—/guru itu dengan lekuk kecil di pipi kirinya, diam sesaat. /Janggutnya manggut-manggut/“ anak ini masih sangat polos!” katanya dalam hati./“ Ya, sudah, kembali ke kelas, lain kali jangan diulangi!”/— jadi saya tidak diskors, Bu?—/Gadis itu berlari-lari kecil keluar dari ruang BK,/buru-buru ia berlari masuk ke kelas,/maklum yang ngajar adalah guru idolanya,/masih muda lagi,/sambil senyum-senyum dia lepaskan dua kancing bajunya,/dan sedikit memelorotkan kaos dalamnya!/Awal April 2004
Ternyata, setelah mendapatkan kunci ide yaitu kreativitas mengolah hal-hal biasa menjadi sedikit istimewa, saya dapat membuat karya atau tulisan dengan sangat cepat. Pernah suatu kali dalam semalam saya menyelesaikan dua tulisan sekaligus (karena deadline untuk lomba itu bersamaan). Tulisan pertama sepanjang enam halaman kuarto, sedangkan tulisan kedua sepanjang 15 halaman kuarto. Hasilnya, tulisan pertama berhasil memperoleh juara kedua lomba penulisan esai perbankan, sedangkan tulisan kedua menjadi juara ketiga lomba karya tulis Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Jelas sudah bahwa menulis itu bukan pertama-tama menuntut eahlian berbahasa Indonesia, melainkan pertama-tama menuntut kita untuk kreatif menggarap hal-hal biasa menjadi luar biasa.
Bagaimana mengolah hal-hal yang kita temui sehari-hari menjadi sebuah cerita atau ide yang menarik? Pertama-tama jangan boros ide (tema). Fokuskan saja pada satu kasus lalu kembangkan segala sesuatunya pada kasus itu. Contoh kasusnya adalah kehilangan dompet di kelas. Fokuskan segala kreativitas anda untuk menciptakan peristiwa-peristiwa dan tokoh yang berhubungan dengan kehilangan dompet itu. Terus boleh dipanjang-panjangkan asal masih tetap pada fokus, yaitu peristiwa kehilangan dompet di kelas.
Bagaimana kasus sederhana ini dapat menjadi cerita sepanjang enam halaman? Gampang! Aturlah agar kita memunculkan akhir cerita seperti model puzzle, sedikit demi sedikit akhirnya teka-tekinya terkuak. Misalnya dibumbui dengan kecurigaan pada tokoh yang antik tetapi akhirnya bukan dia yang mencuri. Yang mencuri dompet itu justru orang yang paling getol mencari pencurinya. Atau kelas dibikin semakin saling curiga, dan ternyata dompetnya itu tertinggal di kantin. Pokoknya kita bebas mengembangkannya asal masih tetap terfokus pada masalah dompet yang hilang tadi.
Kata orang, teman-teman kita yang perilakunya agak lain dari yang lain dapat menjadi sumber cerita yang menarik. Angkat saja orang itu sebagai tokoh utama dalam cerita kita (tentu saja harus diganti nama orangnya dan disamar-samarkan identitasnya). Bumbui dengan peristiwa-peristiwa yang tidak terjadi dalam kehidupan nyata tetapi ada di dalam kerangka pemikiran kita. Hanya, yang perlu kita pikirkan kita mau memberikan pesan apa lewat tokoh kita tadi. Jika sudah kita temukan pesan moralnya, dalam mengembangkan cerita kita harus tetap fokus pada pesan moral tadi.
Gimana, merasa lebih ringan dalam menciptakan cerpen? Coba saja!
paK oYot…
kunjungi wrp ku….
–nok–
Oleh: retnodenok on Januari 29, 2008
at 7:56 pm
pak,
terima kasih atas contoh-contohnya…
walaupun kadang bapak membuat kita jd pusing, truss byk tgs, terima kasih aja..
tp tugasnya dikurangin ya..
Oleh: catherine XD-10 on Februari 9, 2008
at 12:47 pm
bpk, saya suka cara bpk ngajar bpk membalikkan hal normal mnjadi kurang normal tp dsitulah menarikny krn puzzle yg jwbannya mdh ditebak pasti gk akan mnarik
thx
Oleh: komala XB-14 on Februari 9, 2008
at 12:50 pm
cie… cie…..
babe oyot si guru stero ini, canggih aja pak bLognya…
salut…
kyknya redaksi IKARO masih harus banyak belajar dari bapak nih,hehehehe…
makasih ya pak buat commentnya di bLog IKARO
bpk/ibu guru lainnya juga dikasihtau donk be biar sering2 visit blog kita…
gmn pak kehidupan per-teater-an stero?
masih bernyawakah..?
jd kangen masa2 bermain peran disana,ahahahhag…..
Oleh: ikarokita on Februari 23, 2008
at 8:39 pm
materi blog-nya ok. link blog-ku juga ya. Siapa tau berguna juga untuk mengajar. Salam dari JB
Oleh: agepe on Maret 15, 2008
at 1:31 pm
bapak tercintanya abah kenyot…ne anakmu yang paling imoet..anak kelas bahasa yang emang anaknya manis banget……bapak oyod makasih yach buat ide-ide dan pendapat yang kadang menyakitkan hati tetapi membangun kualitas…makasih buat soal-soal sastra.doakan saya supaya luLUS amen….
thanks a lot ^_^
Oleh: tia xenia on Maret 31, 2008
at 5:30 pm
pak,, kapan ajarin kita anak” Xa bikin blog bareng.
Oleh: caRiN Xa on Mei 18, 2008
at 1:56 pm
pakk..
emank na slama ini Bpk sbuK ngajar apa?
heheheheee..
plajaran yg santai tp mendebarkan!
haha
Oleh: gisela XI Bhs on Februari 10, 2009
at 4:30 pm
Saya senang sekali membaca tulisan-tulisan Bapak. Dapatkah saya menghubungi Bapak via email? Terimakasih sebelumnya.
(Wiel)
Oleh: Endang Wilandari on Februari 20, 2009
at 10:22 pm