PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Salahsatu bagian penting yang perlu dicermati dalam pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 adalah penilaian. Setiap tema pembelajaran/unit pembelajaran akan dinilai dari tiga aspek, yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. Dalam masing-masing aspek juga telah ditentukan instrumen atau bentuk penilaiannya.

Mari kita cermati aspek demi aspek.

Aspek pertama adalah penilaian sikap. Penilaian sikap ini dimaksudkan untuk mengukur ketercapaian KI 1 dan KI 2 di mana KI 1 difokuskan pada pencapaian nilai-nilai sikap religius, sedangkan KI 2 difokuskan pada pencapaian nilai-nilai sikap sosial. Fokus pencapaian nilai-nilai sikap religius adalah rasa syukur, sedangkan fokus pencapaian nilai-nilai sikap sosial terdiri dari beberapa nilai, yaitu (a) tanggung jawab, (b) peduli, (c)jujur, (d)responsif, (e)santun, (f)proaktif, dan (g)disiplin.

Untuk mengukut pencapaian nilai-nilai sikap di atas (terutama sikap sosial) telah disediakan empat bentuk penilaian, yaitu (1) observasi, (2)penilaian diri, (3) penilaian antarteman, dan (4)jurnal guru. Observasi merupakan penilaian yang dilakukan oleh guru dengan melakukan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan oleh diri sendiri (siswi) terhadap pencapaian nilai-nilai sikap, dilakukan sebelum melaksanakan ulangan harian atau pada pertemuan terakhir tiap-tiap unit pembelajaran. Penilaian antarteman dilakukan setelah atau bersamaan dengan penilaian diri, biasanya tiap siswi dinilai oleh minimal tiga temannya. Jurnal merupakan penilaian guru yang didasarkan pada catatan-catatan khusus guru.

Hasil akhir NH dari penilaian sikap tiap-tiap unit/tema adalah rerata dari keempat bentuk penilaian di atas, sedangkan hasil akhir NILAI SIKAP TIAP SEMESTER adalah rerata NH SIKAP dari masing-masing unit/tema. Predikat dari HASIL AKHIR NILAI SIKAP adalah Sangat Baik, Baik, Cukup, Kurang. Penilaian sikap di samping menampilkan huruf mutu (SB, B, C, K) harus juga disajikan uraian/penjelasan singkat.

Aspek kedua adalah penilaian pengetahuan.

Penilaian pengetahuan difokuskan untuk mengukur ketercapaian KI 3. Konsetrasi pengukuran diberikan pada penguasaan konsep/kaidah kebahasaan, penguasan struktur teks, dan teori-teori pendukung yang berkaitan dengan teks yang dipelajari.

Untuk mengukur pencapaian nilai pengetahuan telah disediakan tiga bentuk penilaian, yaitu (1) tes lisan, (2) tes tertulis, dan (3) tugas. Tes lisan adalah bentuk tes yang diberikan oleh guru di mana siswi akan memberikan jawabannya secara lisan. Tes tertulis adalah bentuk tes yang diberikan oleh guru di mana siswi memberikan jawabannya secara tertulis. Tes tertulis dapat berupa pilihan ganda, benar-salah, isian singkat, uraian terstruktur, uraian bebas, atau bentuk lain yang relevan. Tugas adalah pemberian latihan-latihan, pekerjaan rumah, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan teks yang sedang dipelajari.

Hasil akhir NH dari penilaian pengetahuan tiap-tiap unit/tema adalah rerata dari tiga bentuk penilaian di atas. Skala penilaian yang dipakai untuk NH adalah skala 100. Hasil akhir NILAI PENGETAHUAN adalah rerata NH PENGETAHUAN + NILAI ULANGAN TENGAH SEMESTER + NILAI ULANGAN AKHIR SEMESTER dengan pembobotan tertentu.  Predikat dari HASIL AKHIR NILAI PENGETAHUAN adalah A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D. Penilaian pengetahuan di samping menampilkan huruf mutu seperti di atas harus juga disajikan uraian/penjelasan singkat.

Aspek kedua adalah penilaian keterampilan.

Penilaian keterampilan difokuskan untuk mengukur ketercapaian KI 4. Konsetrasi pengukuran diberikan pada kemampuan menerapkan konsep/kaidah kebahasaan, penguasan struktur teks, dan teori-teori pendukung yang berkaitan dengan teks yang dipelajari untuk menghasilkan karya.

Untuk mengukur pencapaian nilai keterampilan telah disediakan tiga bentuk penilaian, yaitu (1) unjuk kerja/praktik, (2) projek/proyek, dan (3) portofolio. Unjuk kerja merupakan praktik penerapan konsep. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang dimaksud unjuk kerja ini dapat berupa praktik menulis, praktik berwicara, atau praktik mengevaluasi teks. Projek merupakan kegiatan bersama yang terencana yang berkaitan dengan teks yang sedang dipelajari. Contoh proyek adalah proyek membaca buku, proyek membuat kumpulan anekdot, dan proyek menulis berdasarkan angket. Sedangkan portofolio merupakan penilaian terhadap hasil kerja yang dilakukan selama proses pembelajaran, seperti hasil diskusi, hasil analisis, dan lain-lain.

Hasil akhir NH dari penilaian keterampilan tiap-tiap unit/tema adalah rerata dari tiga bentuk penilaian di atas. Skala penilaian yang dipakai untuk NH adalah skala 100. Hasil akhir NILAI KETERAMPILAN adalah rerata NH KETERAMPILAN.  Predikat dari HASIL AKHIR NILAI PENGETAHUAN adalah A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D. Penilaian keterampilan di samping menampilkan huruf mutu seperti di atas harus juga disajikan uraian/penjelasan singkat.

Yang perlu menjadi perhatian para siswi (dan guru) adalah bahwa TIAP-TIAP ASPEK telah memiliki BENTUK PENILAIAN yang khas. Bentuk-bentuk penilaian tersebut tidak boleh dipakai bersilangan, artinya instrumen penilaian antarteman tidak boleh digunakan untuk menilai aspek pengetahuan, penilaian tugas tidak boleh digunakan untuk menilai aspek sikap, dan seterusnya.

Semoga bermanfaat.



Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN BAHASA

Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA sekarang menggunakan model pembelajaran berbasis teks. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa seluruh aspek pembelajaran bahasa Indonesia dimulai dari memahami teks dan berujung pada produksi teks dan jika dimungkinkan sampai pada publikasi teks.

 IMG_2487Teks apa saja yang terdaftar dalam Kurikulum 2013 jenjang SMA? Untuk kelas X ada lima teks, yaitu (1) laporan observasi, (2) teks prosedur kompleks, (3) teks eksposisi, (4) teks anekdot, dan (5) teks negosiasi. Teks 1-3 dipelajari pada semester gasal, sedangkan teks 4-5 dipelajari pada semester genap.

Bagaimana proses pembelajarannya? Secara umum setiap teks dipelajari dalam jangka waktu 16 jam pelajaran, yang terbagi ke dalam 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama yang berlangsung selama 4×45 menit difokuskan pada proses MEMAHAMI teks. Termasuk di dalam proses memahami teks adalah memahami struktur teks, kaidah teks, aspek kebahasaan teks. Pertemuan kedua yang juga berlangsung selama 4×45 menit difokuskan pada proses MENDALAMI teks. Termasuk di dalam proses ini adalah menganalisis struktur dan kaidah beberapa teks sejenis, berdiskusi tentang isi teks, dan menemukan kesalahan-kesalahan teks. Pertemuan ketiga yang juga berlangsung selama 4×45 menit difukuskan pada proses MEMRODUKSI teks. Termasuk di dalam proses ini adalah membuat kerangka karangan, mencari bahan-bahan tulisan, membuat teks/mengarang, menyunting/mengedit, dan menyempurnakan teks. Dan tahap terakhir atau pertemuan keempat adalah MEMUBLIKASIKAN teks. Termasuk di dalamnya adalah menyempurnakan teks, mendesain tampilan teks, dan mewartakan teks (diserahkan kepada guru untuk dinilai, atau di-upload di media online, atau dipajang di media offline).

Jadi…mari kita tunggu GENERASI MUDA BARU yang unggul dalam MENULIS, unggul dalam BERPENDAPAT, dan SADAR MEDIA MASSA.

Siap!

 

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

SEKEDAR MENYAPA

Kawan-kawan tercinta, sejak 1 Juli 2010 yang lalu saya menempati “ladang baru” dalam pelayanan pendidikan. Untuk penyegaran dan revitalisasi diri saya dipindahtugaskan ke SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, Jl. Sabirin 1-3 Yogyakarta. Karakteristik subyek didiknya masih sama, yaitu SEKOLAH HOMOGEN khusus putri.

Ada tantangan tersendiri bagi saya untuk mengembangkan diri dalam pelayanan pendidikan setelah hampir 12 tahun menjadi guru, yang secara sadar atau tidak  saya sering terjebak pada dosa rutinitas yang tentu jika tidak dicermati lama kelamaan akan menjadi dosa kontraproduktif alis stagnan.

Ada pengalaman baru yang menunggu untuk diukir mengingat anak-anak di sini tentu berbeda dengan anak didik saya sebelumnya. Tapi, justru pencarian strategi pembelajaran yang kontekstual dengan kondisi anak didik menjadi kunci utama keberlangsungan pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Yang masih tetap sama adalah bahwa webblog ini tetap akan menjadi webblog terbuka, universal, dan semoga bisa berkembang sehingga saya bisa lebih banyak menyumbangkan materi-materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tanpa terkotak-kotak oleh tempat atau sekolah.

 

Terima kasih atas kunjungan teman-teman. Semoga webblog ini bisa hidup lagi, aktif lagi, berkembang lagi demi peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia.

 

Salam Sastra!

Categories: Tak Berkategori | 2 Komentar

MUSIKALISASI PUISI

Pementasan puisi dengan model musikalisasi puisi sekarang sedang menjadi trend. Di berbagai daerah telah terbentuk komunitas musikalisasi puisi. Namun, apakah sebenarnya musikalisasi puiti itu?

Sampai saat ini minimal ada tiga kategori musikalisasi puisi. Pertama, musikalisasi puisi murni. Yang dimaksud musikalisasi murni adalah penggubahan puisi menjadi syair lagu tanpa mengikutsetakan pembacaan puisi. Yang dipentaskan adalah benar-benar sebuah lagu, dan puisi hanya berperan sebagai syair lagu. Perbedaan lagu hasil musikalisasi dan lagu yang diciptakan bukan dari puisi tidak terlalu kelihatan. Hanya perbedaan isi syair dan kedalaman maknalah yang membedakan syair puisi dan syair nonpuisi. Model musikalisasi puisi semacam ini sebenarnya telah tumbuh lama. Syair-syair lagu yang dibawakan oleh BIMBO sebagian merupakan puisi-puisi ciptaan Taufiq Ismail. Misalnya saja lagu Panggung Sandiwara dan Sajadah Panjang. Model musikalisasi ini semakin terangkat pamornya ketika muncul musikalisasi puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

Kedua, musikalisasi puisi versi sastra. Yang dimaksud musikalisasi puisi versi sastra adalah pembacaan puisi yang diiringi oleh permainan alat-alat musik. Yang dipentaskan adalah pembacaan puisi tanpa dinyanyikan, tetapi selama pembacaan puisi ada backsound live permainan alat musik seperti biola, gitar, atau alat musik lainnya. Jelas bahwa fokus utama musikalisasi puisi versi ini adalah keahlian olah vokal pembacaan puisi. Model musikalisasi seperti ini sudah tumbuh lama di dunia pementasan karya sastra dan teater.

Dua kubu di atas (versi penyanyi dan versi pemain teater) saling tarik ulur dalam memberikan makna atas musikalisasi puisi. Para penyanyi beranggapan bahwa fokus musikalisasi puisi adalah nyanyian. Sehingga musikalisasi puisi masuk dalam wilayah seni suara dan seni musik. Sementara para pegiat teater berpendapat bahwa fokusnya tetap pada puisi, sehingga porsi pembacaan puisi menjadi yang utama, musik sekedar pelengkap.

Bagaimana sebenarnya musikalisasi puisi yang ideal? Pada hemat saya, musikalisasi puisi merupakan kerja kolaborasi antara aliran seni musik dan aliran seni sastra. Untuk itu, agar muncul kolaborasi yang bernilai seni, musikalisasi puisi perlu memberikan tempat yang seimbang (harmonis) antara keahlian seni suara dan keahlian seni sastra. Maka, musikalisasi puisi sebaiknya memunculkan kedua unsur tersebut secara harmonis. Artinya, dalam musikalisasi puisi harus tercermin keindahan nyanyian dan keindahan pembacaan puisi. Kolaborasi lagu dan pembacaan puisi dapat diciptakan jika suasana puisi dapat diterjemahkan dengan baik oleh pembaca puisi dan pencipta lagu. Jika dapat diterjemahkan dengan baik maka akan terpancar kualitas puisi sekaligus kualitas musikalnya.

Beberapa contoh telah dibuat oleh beberapa komunitas di Yogyakarta, mulai dari Balai Bahasa dengan Sanggar Sastra Indonesia (SSIY), SMA Stella Duce 2 Yogyakarta dengan Komunitas Sastra Stero (KSS). Beberapa judul musikalisasi yang dibuat oleh KSS adalah Waktu, Di Keningmu ada Puisi, Doa Selamatan, dan masih banyak lagi.

Pengin punya? Datang saja ke SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Atau hubungi saya  di agsuyoto@gmail.com. Ada delapan (8) Video Compact Disk (VCD) yang telah kami buat. Ada juga media-media pembelajaran sastra lain seperti drama pendek, pidato, dan promosi buku. Asli karya sendiri. OK

Categories: Tak Berkategori | 6 Komentar

SOSOK “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

Pokok materi berikutnya adalah membuat esai ulasan tentang karya sastra. Berikut ini saya berikan sebuah contoh tulisan sederhana (boleh disebut esai) yang didasarkan pada teori analisis intrinsik.

SOSOK “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

Sosok Maria dalam film Ayat-ayat Cinta menggelitik saya. Tentu saja, saya tergelitik dalam hubungannya sebagai pribadi yang memiliki keyakinan Kristiani. Namun, dalam tulisan ini saya tidak ingin mempersoalkan masalah “pindah agama” atau yang sejenisnya. Saya hanya ingin mencoba melihat secara jernih sosok Maria dalam kacamata analisis tokoh dan penokohan.

Gambaran sosok Maria sejak awal terlihat sebagai sosok yang Kristiani banget. Artinya, nilai-nilai hidup seorang Kristiani sejati tercermin dalam penggambaran tokoh Maria. Berpengetahuan, toleren, berani ambil resiko dalam menolong orang lain, berani mengalah, dan memiliki jiwa pengampun. Berikut ini akan saya coba kemukakan analisa pribadi saya atas nilai-nilai hidup yang diyakini oleh tokoh Maria dalam film tersebut.

Pertama, berpengetahuan. Sosok Maria dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok yang berpengetahuan. Ia tahu banyak hal, bahkan termasuk informasi-informasi agama di luar keyakinannya. Pengetahuan tersebut hidup dan dihidupi dalam rangka menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengetahuannya yang mendalam tentang agama lain tersebut, dalam pergaulannya dengan Fahri dan teman-temannya, ia bisa menempatkan diri secara tepat. Di samping pengetahuan yang luas, ia juga digambarkan sebagai orang yang lumayan pandai. Hal itu dapat dilihat dari adegan menganalisa permasalahan komputer Fahri dan memberikan solusi atas hilangnya file-file Fahri. Sungguh pandai sang sutradara menggambarkan nilai-nilai persaudaraan sejati dalam adegan-adegan ini.

Kedua, toleren. Sejumlah adegan menunjukkan bahwa sosok Maria merupakan sosok yang digambarkan memiliki jiwa tolerensi tinggi. Dia menghargai prinsip-prinsip agama lain dengan tidak mencuri-curi bersentuhan dengan Fahri (walaupun keinginan itu  begitu menggebu dalam hari Maria). Secara pribadi saya sangat tersentuh dengan penggambaran toleransi dalam adegan kehidupan Maria bersama dengan Fahri dan teman-temannya di tempat kost. Bagaimana Fahri dan teman-temannya (sebagai gambaran orang-orang nonmuslim mayoritas) memperlakukan Maria (sebagai gambaran minoritas di tengah-tengah mayoritas). Sungguh sangat indah! Dan tampaknya dalam film tersebut ”roh” toleransi tersebut dicoba untuk dipertahankan dengan adegan-adegan Maria dan teman-teman Fahri setelah Fahri menikah.

Ketiga, berani ambil resiko dalam menolong orang lain. Setidak-tidaknya ada adegan yang bagi saya cukup menyentuh yaitu ketika Maria dengan berani berusaha menolong seorang gadis muslim yang disiksa oleh orangtua angkatnya. Fahri yang begitu prihatin dan tersentuh dengan penderitaan perempuan itu tidak berani serta merta menolongnya. Dia meminta bantuan Maria untuk menolong. Dan tanpa berpikir panjang akan resiko-resiko yang akan diterimanya (termasuk pada akhirnya dia menanggung resiko akan dibunuh). Adegan ini menunjukkan betapa Maria memiliki ketulusan hati dalam menolong siapapun tanpa memandang agama dan tanpa memperhitungkan resiko yang harus ditanggungnya. Sungguh gambaran ideal seorang Kristiani sejati atau secara umum merupakan gambaran ideal manusia sejati.

Keempat, berani mengalah. Ketika mengetahui bahwa Fahri sudah beristri, walaupun dengan berat hati dan hancur, Maria menyingkir dari kehidupan Fahri dan Aisha. Keberanian untuk mengalah ini saya kira merupakan hakikat sejati dari cinta itu sendiri. Digambarkan dalam film itu bahwa keberanian untuk mengalah ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi sosok Maria sampai-sampai keluar darah dari tubuhnya. Mencermati adegan itu saya jadi teringat peristiwa di Taman Getsemani ketika Yesus harus berjuang untuk berani menerima kematiannya esok harinya demi cintanya pada manusia. Dan keberanian untuk mengalah ini dilakukan dengan tulus tanpa keinginan untuk memegahkan diri, terbukti Fahri tidak tahu.

Kelima, bersedia menyelamatkan orang yang telah membuatnya menderita. Upaya Aisha untuk mencari Maria didasari pada motivasi untuk menyelamatkan suaminya dari hukuman mati.  Kesaksian Maria menjadi kunci penyelamatan Fahri dari tuduhan pemerkosaan. Maria yang dalam kondisi sakit berjuang untuk hidup dalam kerangka menyelamatkan Fahri dari hukuman mati. Dalam pandangan saya, sebenarnya Maria telah memilih jalan untuk dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya berada dalam kondisi sakit dan akhirnya mati. Namun, motivasi untuk menyelamatkan Fahri-lah yang membuatnya tetap bertahan hidup dan memberikan kesaksian dalam persidangan. Tampaknya, Fahri menikahi Maria bukan pertama-tama karena cinta tetapi terlebih karena norma agama. Fahri tidak bisa menyentuh Maria karena dia bukan muhrimnya sementara Maria membutuhkan sentuhan itu untuk memperkuat semangat hidupnya. Dan saya kira, dalam adegan di rumah sakit ini tercemin sikap rela berkorban dari tokoh-tokoh sentral dalam film ini. Hanya saja, dalam pandangan saya, kadar ketulusan paling tinggi terdapat pada sosok Maria.

Keenam, rela berkorban. Dalam berbagai adegan saya menemukan sejumlah bukti bahwa sosok Maria merupakan sosok yang rela berkorban. Pengorbanan terbesar yang dia lakukan adalah meminta Fahri dan Aisha untuk mengajarinya shalat karena sebuah keinginan (atau tepatnya kerelaan) untuk bisa secara total bersatu dengan Fahri dan Aisha. Sebuah pengorbanan yang kiranya paling besar dalam sejarah manusia. Ada gambaran yang menggelitik saya, untuk menggambarkan betapa hebatnya pengorbanan Maria dalam adegan ini digambarkan adanya tetes-tetes darah yang jatuh ke tatto Maria. Ketulusan dan kerelaan yang kiranya tidak ada tandingannya.

Kalau kita mencermati adegan-adegan yang menggambarkan perwatakan tokoh Maria dalam film Ayat-ayat Cinta kita akan dapat menemukan banyak nilai luhur yang mengatasi penafsiran-penafsiran sempit sebuah karya sastra. Penafsiran atas karya sastra sebaiknya memang dilakukan secara menyeluruh, bukannya dipenggal-penggal. Bahwa pada beberapa adegan diselipkan ”pesan moral” ataupun ”pesan sponsor” khusus, kiranya hal itu wajar-wajar saja karena memang sangat sulit untuk membuat karya sastra netral senetral-netralnya. Toh harus kita akui bahwa karya sastra tidak muncul dari kekosongan, melainkan dari berbagai unsur nonsastra yang mempengaruhinya.

Pada sisi lain, tampaknya kita perlu menggalakkan lagi atau kalau sudah digalakkan ya… lebih digalakkan lagi pembelajaran apresiasi sastra sehingga akan semakin banyak orang yang cerdas dan bijaksana dalam menikmati karya sastra.

Semoga.

Categories: Tak Berkategori | 4 Komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.