Oleh: agsuyoto | Februari 25, 2009

INFO UN BAHASA INDONESIA 2009

Pengunjung yang terkasih,

Bersama ini saya beritahukan bahwa jika Anda menghendaki SOAL-SOAL PERSIAPAN UJIAN NASIONAL 2009 untuk BAHASA INDONESIA atau SASTRA INDONESIA atau TIPS SIAP UN DALAM 50JP, saya undang Anda untuk mengunjungi webblog saya di http://oyoth.wordpress.com. Dijamin lengkap dan akurat.

Terima kasih.

Salam

Agustinus Suyoto,S.Pd

Oleh: agsuyoto | Januari 5, 2009

SKL UJIAN NASIONAL 2009

Sudah dipastikan bahwa Ujian Nasional SMA 2009 akan dilaksanakan pada tanggal 20 sampai dengan 25 April 2009. SKL dan Kemampuan yang Diukur alias Kisi-kisi Soal Ujian Nasional 2009 juga sudah diterbitkan dalam Permendiknas No. 77 tahun 2009. Sebagai lembaga pelaksana dan lembaga yang diukur kinerjanya, tentu tidak bijaksana jika kita berlarut-larut dalam polemik Ujian Nasional. Lebih bijaksana jika kita bersiap-siap melaksanakan Ujian Nasional sehingga anak didik kita berhasil melewati Batas Kelulusan Minimal sebesar 5,50 sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi.

Dalam pandangan saya, ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam rangka mempersiapkan diri dalam menghadapi Ujian Nasional. Pertama, kita perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh “aturan main” kelulusan. Misalnya, boleh ada dua mata pelajaran dengan nilai 4,00. Hal ini berpengaruh pada nilai minimal yang harus diperoleh pada mata pelajaran lain. Dalam hitungan saya, nilai lainnya harus 7,00 untuk mencapai nilai rata-rata 5,50. Kalau tidak percaya, coba hitung!

Kedua, ada sejumlah mata pelajaran yang poin-poin kisi-kisinya spesifik, mendekati jumlah soal Ujian Nasional. Namun, ada pula yang tidak spesifik. Untuk mata pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Matematika, jumlah kisi-kisinya mendekati jumlah soal Ujian Nasional. Sedangkan untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Sastra, Sosiologi, Geografi, Ekonomi, dan Antropologi jumlah kisi-kisinya tidak spesifik. Data ini menunjukkan bahwa untuk mata pelajaran yang kisi-kisinya tidak spesifik akan terjadi banyak pengulangan materi pada beberapa soal. Sedangkan untuk mata pelajaran yang telah spesifik, ada kemungkinan soal yang muncul mendekati kisi-kisi soal yang telah diterbitkan.

Mungkin informasi ini dapat membantu teman-teman dalam mengorganisasikan materi pelajaran untuk persiapan Ujian Nasional. Caranya, untuk mata pelajaran yang tidak spesifik kisi-kisinya, fokus materi tetap pada materi yang disebutkan pada kisi-kisi dengan memperbanyak frekuensi latihan soal. Dengan demikian variasi-variasi soal dapat sungguh-sungguh dikenal oleh para siswi. Sedangkan untuk mata pelajaran yang sudah sepsifik, fokuskan pembahasan materi pada parameter yang hendak diukur. Biasanya parameter tersebut terdapat pada kata pertama dari SKL atau Materi Yang Diukur. OK.

Masih ada tips lain. Sandingkan SKL tahun 2009 dengan soal Ujian Nasional 2008. Cermatilah apa saja yang berbeda dan apa saja yang sama. Soal yang sesuai dengan SKL 2009 kiranya akan tetap ada (tipe soal dan materinya). Maka soal tersebut dapat digunakan untuk mencermati sungguh-sungguh tipe soal yang akan muncul tahun 2009 dan dapat diyakini bahwa tingkat kemiripannya tinggi. Sedangkan soal-soal yang tidak ada hubungannya dengan SKL 2009, abaikan saja. Pasti tidak keluar pada Ujian Nasional 2009.

Tips lainnya lagi. Komposisi soal biasanya 25% mudah, 50% sedang, dan 25% sukar. Fokuskan waktu persiapan dan pelatihan pada soal dengan kategori mudah dan sedang. Jika soal dengan karakteristik mudah dan sedang dapat sungguh-sungguh dikuasai, loginya 75% soal dapat dikerjakan dengan mudah. Sisanya biar menjadi urusan masing-masing siswa. OK

Akhirnya. Terlepas dari kebermanfaat Ujian Nasional untuk kepentingan peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, kita sebagai insan pendidikan sebaiknya menjadi “obyek pengukuran” yang obyektif dan proporsional. Tentu saja tanpa meninggalkan idealisme kita dengan banyak memberikan “point plus” secara kreatif pada anak didik kita dan dunia pendidikan kita. Amin

Eh….. lupa. ini SKL lengkap 2009 kalau mau download.

permen-77-tahun-2008-ttg-un-sma-ma

Oleh: agsuyoto | September 8, 2008

RENUNGAN

 

PENJELASAN GURU TENTANG HER

 

 

 tujuh puluh lima persen siswa kelas tiga

dinyatakan harus mengikuti program perbaikan

alias her… sosiologi.

beberapa anak yang telah kubekali

analisa data dan sedikit strategi debat,

datang pada guru itu dan bertanya,

            “Sebenarnya yang salah siapa sih, Pak!”

 

seperti biasa, setiap kali mengawali perdebatan,

mereka bersikap netral.

guru itu, dengan mantap menjawab,

            “Ya, kalian, kenapa tidak belajar sungguh-sungguh,

               ini akibatnya,

               lalu kalian menyesal, protes, tidak terima!”

 

mulailah mereka pasang strategi menyerang,

            “Tapi ini tujuh puluh lima persen, Pak!

               Berarti hanya sedikit yang berhasil.

               Jangan-jangan soalnya memang tidak valid!”

 

guru itu mulai merah telinganya. Nada bicaranya meninggi

            “Jangan buruk muka cermin dibelah.

              Refleksi. Renungkan. Lihat diri sendiri”

 

Anak-anak yang sudah kubekali strategi berdebat itu,

Mulai menggila. Mereka keluarkan buku catatan Sosiologi.

            “ Pak, catatan yang Bapak berikan sedikit sekali yang

               keluar. Kalau ada yang keluar, tidak cocok dengan

               catatan”

 

Guru itu mulai naik pitam. Terbayang kemarahan Kepala Sekolah

karena nilai murid-muridnya jelek. Masih lagi anak-anak yang

berani menuntut. Maka dengan nada tinggi, ia berteriak

            “Seharusnya kalian tahu bahwa guru bukan satu-satunya

              sumber belajar. Baca buku. Buka internet.

  Ikut bimbingan belajas.

              Les privat!!!”

 

 

 

6 April 2004

Oleh: agsuyoto | September 3, 2008

BULAN PUASA DAN BUDAYA PERDESAAN

Memasuki bulan puasa ini, ada kebiasaan anak saya yang berubah walaupun saya, istri saya, dan anak-anak saya bukan pemeluk agama islam. Setiap sore mereka minta dibelikan kolak. Walaupun di desa, pada masa puasa seperti ini banyak sekali pedagang dadakan yang menjajakan kolak mulai pukul 16.00 sampai menjelang berbuka puasa. Saya iseng bertanya pada anak-anak saya, mengapa mereka minta dibelikan kolak padahal tidak berpuasa. Apa jawaban mereka berdua. ‘Boleh khan saya ikut bergembira pada bulan puasa walaupun bukan muslim?’

Memang, untuk masyarakat desa, bulan puasa bukan melulu milik kaum muslim. Bulan puasa telah menjadi budaya masyarakat perdesaan tanpa memandang agama dan kelompok. Toleransi dengan sendirinya akan terbangun tanpa perlu harus digembar-gemborkan, apalagi menjadi komoditas politik menjelang pemilu. Nuansa religius dengan sendirinya terbangun. Menjelang berbuka puasa, banyak orang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk berbuka bersama. Orang-orang nonmuslim juga banyak yang berbondong-bondong ke warung-warung dadakan untuk membeli kolak, es campur, pecel, atau makanan kecil lainnya. Lucu memang, tetapi inilah bentuk kebersamaan a-la orang-orang desa.

Pertemuan-pertemuan desa juga menyesuaikan dengan ritme bulan puasa. Pertemuan RT, RW dilaksanakan setelah acara tarawih (sekitar pukul 20.00). Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada juga pembatalan acara-acara rutin. Kumpul-kumpul saling berkunjung sebagaimana layaknya orang desa justru semakin meriah pada saat-saat menjelang berbuka puasa. Ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak biasanya bersenda gurau di teras rumah tetangga sambil menunggu sirine berbuka puasa. Begitu sirine berbunyi, mereka serentak bubar pulang ke rumah masing-masing. Sungguh menyenangkan.

Kiranya, bulan puasa pada satu sisi merupakan bulan yang sangat religius  bagi umat muslim, namun pada sisi lain juga merupakan bulan yang sangat indah bagi perwujudan toleransi hidup beragama. Dan referensinya adalah masyarakat desa. Maka, mari kita isi bulan puasa ini sebaik-baiknya baik sebagai orang muslim maupun orang Jawa. Selamat berpuasa!

Oleh: agsuyoto | Agustus 1, 2008

MUSIKALISASI PUISI

Pementasan puisi dengan model musikalisasi puisi sekarang sedang menjadi trend. Di berbagai daerah telah terbentuk komunitas musikalisasi puisi. Namun, apakah sebenarnya musikalisasi puiti itu?

Sampai saat ini minimal ada tiga kategori musikalisasi puisi. Pertama, musikalisasi puisi murni. Yang dimaksud musikalisasi murni adalah penggubahan puisi menjadi syair lagu tanpa mengikutsetakan pembacaan puisi. Yang dipentaskan adalah benar-benar sebuah lagu, dan puisi hanya berperan sebagai syair lagu. Perbedaan lagu hasil musikalisasi dan lagu yang diciptakan bukan dari puisi tidak terlalu kelihatan. Hanya perbedaan isi syair dan kedalaman maknalah yang membedakan syair puisi dan syair nonpuisi. Model musikalisasi puisi semacam ini sebenarnya telah tumbuh lama. Syair-syair lagu yang dibawakan oleh BIMBO sebagian merupakan puisi-puisi ciptaan Taufiq Ismail. Misalnya saja lagu Panggung Sandiwara dan Sajadah Panjang. Model musikalisasi ini semakin terangkat pamornya ketika muncul musikalisasi puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

Kedua, musikalisasi puisi versi sastra. Yang dimaksud musikalisasi puisi versi sastra adalah pembacaan puisi yang diiringi oleh permainan alat-alat musik. Yang dipentaskan adalah pembacaan puisi tanpa dinyanyikan, tetapi selama pembacaan puisi ada backsound live permainan alat musik seperti biola, gitar, atau alat musik lainnya. Jelas bahwa fokus utama musikalisasi puisi versi ini adalah keahlian olah vokal pembacaan puisi. Model musikalisasi seperti ini sudah tumbuh lama di dunia pementasan karya sastra dan teater.

Dua kubu di atas (versi penyanyi dan versi pemain teater) saling tarik ulur dalam memberikan makna atas musikalisasi puisi. Para penyanyi beranggapan bahwa fokus musikalisasi puisi adalah nyanyian. Sehingga musikalisasi puisi masuk dalam wilayah seni suara dan seni musik. Sementara para pegiat teater berpendapat bahwa fokusnya tetap pada puisi, sehingga porsi pembacaan puisi menjadi yang utama, musik sekedar pelengkap.

Bagaimana sebenarnya musikalisasi puisi yang ideal? Pada hemat saya, musikalisasi puisi merupakan kerja kolaborasi antara aliran seni musik dan aliran seni sastra. Untuk itu, agar muncul kolaborasi yang bernilai seni, musikalisasi puisi perlu memberikan tempat yang seimbang (harmonis) antara keahlian seni suara dan keahlian seni sastra. Maka, musikalisasi puisi sebaiknya memunculkan kedua unsur tersebut secara harmonis. Artinya, dalam musikalisasi puisi harus tercermin keindahan nyanyian dan keindahan pembacaan puisi. Kolaborasi lagu dan pembacaan puisi dapat diciptakan jika suasana puisi dapat diterjemahkan dengan baik oleh pembaca puisi dan pencipta lagu. Jika dapat diterjemahkan dengan baik maka akan terpancar kualitas puisi sekaligus kualitas musikalnya.

Beberapa contoh telah dibuat oleh beberapa komunitas di Yogyakarta, mulai dari Balai Bahasa dengan Sanggar Sastra Indonesia (SSIY), SMA Stella Duce 2 Yogyakarta dengan Komunitas Sastra Stero (KSS). Beberapa judul musikalisasi yang dibuat oleh KSS adalah Waktu, Di Keningmu ada Puisi, Doa Selamatan, dan masih banyak lagi.

Pengin punya? Datang saja ke SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Atau hubungi saya  di agsuyoto@gmail.com. Ada delapan (8) Video Compact Disk (VCD) yang telah kami buat. Ada juga media-media pembelajaran sastra lain seperti drama pendek, pidato, dan promosi buku. Asli karya sendiri. OK

Oleh: agsuyoto | April 15, 2008

SOSOK “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

Pokok materi berikutnya adalah membuat esai ulasan tentang karya sastra. Berikut ini saya berikan sebuah contoh tulisan sederhana (boleh disebut esai) yang didasarkan pada teori analisis intrinsik.

SOSOK “MARIA” DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA

Sosok Maria dalam film Ayat-ayat Cinta menggelitik saya. Tentu saja, saya tergelitik dalam hubungannya sebagai pribadi yang memiliki keyakinan Kristiani. Namun, dalam tulisan ini saya tidak ingin mempersoalkan masalah “pindah agama” atau yang sejenisnya. Saya hanya ingin mencoba melihat secara jernih sosok Maria dalam kacamata analisis tokoh dan penokohan.

Gambaran sosok Maria sejak awal terlihat sebagai sosok yang Kristiani banget. Artinya, nilai-nilai hidup seorang Kristiani sejati tercermin dalam penggambaran tokoh Maria. Berpengetahuan, toleren, berani ambil resiko dalam menolong orang lain, berani mengalah, dan memiliki jiwa pengampun. Berikut ini akan saya coba kemukakan analisa pribadi saya atas nilai-nilai hidup yang diyakini oleh tokoh Maria dalam film tersebut.

Pertama, berpengetahuan. Sosok Maria dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok yang berpengetahuan. Ia tahu banyak hal, bahkan termasuk informasi-informasi agama di luar keyakinannya. Pengetahuan tersebut hidup dan dihidupi dalam rangka menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengetahuannya yang mendalam tentang agama lain tersebut, dalam pergaulannya dengan Fahri dan teman-temannya, ia bisa menempatkan diri secara tepat. Di samping pengetahuan yang luas, ia juga digambarkan sebagai orang yang lumayan pandai. Hal itu dapat dilihat dari adegan menganalisa permasalahan komputer Fahri dan memberikan solusi atas hilangnya file-file Fahri. Sungguh pandai sang sutradara menggambarkan nilai-nilai persaudaraan sejati dalam adegan-adegan ini.

Kedua, toleren. Sejumlah adegan menunjukkan bahwa sosok Maria merupakan sosok yang digambarkan memiliki jiwa tolerensi tinggi. Dia menghargai prinsip-prinsip agama lain dengan tidak mencuri-curi bersentuhan dengan Fahri (walaupun keinginan itu  begitu menggebu dalam hari Maria). Secara pribadi saya sangat tersentuh dengan penggambaran toleransi dalam adegan kehidupan Maria bersama dengan Fahri dan teman-temannya di tempat kost. Bagaimana Fahri dan teman-temannya (sebagai gambaran orang-orang nonmuslim mayoritas) memperlakukan Maria (sebagai gambaran minoritas di tengah-tengah mayoritas). Sungguh sangat indah! Dan tampaknya dalam film tersebut ”roh” toleransi tersebut dicoba untuk dipertahankan dengan adegan-adegan Maria dan teman-teman Fahri setelah Fahri menikah.

Ketiga, berani ambil resiko dalam menolong orang lain. Setidak-tidaknya ada adegan yang bagi saya cukup menyentuh yaitu ketika Maria dengan berani berusaha menolong seorang gadis muslim yang disiksa oleh orangtua angkatnya. Fahri yang begitu prihatin dan tersentuh dengan penderitaan perempuan itu tidak berani serta merta menolongnya. Dia meminta bantuan Maria untuk menolong. Dan tanpa berpikir panjang akan resiko-resiko yang akan diterimanya (termasuk pada akhirnya dia menanggung resiko akan dibunuh). Adegan ini menunjukkan betapa Maria memiliki ketulusan hati dalam menolong siapapun tanpa memandang agama dan tanpa memperhitungkan resiko yang harus ditanggungnya. Sungguh gambaran ideal seorang Kristiani sejati atau secara umum merupakan gambaran ideal manusia sejati.

Keempat, berani mengalah. Ketika mengetahui bahwa Fahri sudah beristri, walaupun dengan berat hati dan hancur, Maria menyingkir dari kehidupan Fahri dan Aisha. Keberanian untuk mengalah ini saya kira merupakan hakikat sejati dari cinta itu sendiri. Digambarkan dalam film itu bahwa keberanian untuk mengalah ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi sosok Maria sampai-sampai keluar darah dari tubuhnya. Mencermati adegan itu saya jadi teringat peristiwa di Taman Getsemani ketika Yesus harus berjuang untuk berani menerima kematiannya esok harinya demi cintanya pada manusia. Dan keberanian untuk mengalah ini dilakukan dengan tulus tanpa keinginan untuk memegahkan diri, terbukti Fahri tidak tahu.

Kelima, bersedia menyelamatkan orang yang telah membuatnya menderita. Upaya Aisha untuk mencari Maria didasari pada motivasi untuk menyelamatkan suaminya dari hukuman mati.  Kesaksian Maria menjadi kunci penyelamatan Fahri dari tuduhan pemerkosaan. Maria yang dalam kondisi sakit berjuang untuk hidup dalam kerangka menyelamatkan Fahri dari hukuman mati. Dalam pandangan saya, sebenarnya Maria telah memilih jalan untuk dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya berada dalam kondisi sakit dan akhirnya mati. Namun, motivasi untuk menyelamatkan Fahri-lah yang membuatnya tetap bertahan hidup dan memberikan kesaksian dalam persidangan. Tampaknya, Fahri menikahi Maria bukan pertama-tama karena cinta tetapi terlebih karena norma agama. Fahri tidak bisa menyentuh Maria karena dia bukan muhrimnya sementara Maria membutuhkan sentuhan itu untuk memperkuat semangat hidupnya. Dan saya kira, dalam adegan di rumah sakit ini tercemin sikap rela berkorban dari tokoh-tokoh sentral dalam film ini. Hanya saja, dalam pandangan saya, kadar ketulusan paling tinggi terdapat pada sosok Maria.

Keenam, rela berkorban. Dalam berbagai adegan saya menemukan sejumlah bukti bahwa sosok Maria merupakan sosok yang rela berkorban. Pengorbanan terbesar yang dia lakukan adalah meminta Fahri dan Aisha untuk mengajarinya shalat karena sebuah keinginan (atau tepatnya kerelaan) untuk bisa secara total bersatu dengan Fahri dan Aisha. Sebuah pengorbanan yang kiranya paling besar dalam sejarah manusia. Ada gambaran yang menggelitik saya, untuk menggambarkan betapa hebatnya pengorbanan Maria dalam adegan ini digambarkan adanya tetes-tetes darah yang jatuh ke tatto Maria. Ketulusan dan kerelaan yang kiranya tidak ada tandingannya.

Kalau kita mencermati adegan-adegan yang menggambarkan perwatakan tokoh Maria dalam film Ayat-ayat Cinta kita akan dapat menemukan banyak nilai luhur yang mengatasi penafsiran-penafsiran sempit sebuah karya sastra. Penafsiran atas karya sastra sebaiknya memang dilakukan secara menyeluruh, bukannya dipenggal-penggal. Bahwa pada beberapa adegan diselipkan ”pesan moral” ataupun ”pesan sponsor” khusus, kiranya hal itu wajar-wajar saja karena memang sangat sulit untuk membuat karya sastra netral senetral-netralnya. Toh harus kita akui bahwa karya sastra tidak muncul dari kekosongan, melainkan dari berbagai unsur nonsastra yang mempengaruhinya.

Pada sisi lain, tampaknya kita perlu menggalakkan lagi atau kalau sudah digalakkan ya… lebih digalakkan lagi pembelajaran apresiasi sastra sehingga akan semakin banyak orang yang cerdas dan bijaksana dalam menikmati karya sastra.

Semoga.

Oleh: agsuyoto | Januari 29, 2008

IDE CERITA

Sepuluh tahun yang lalu, ketika saya mulai mengajar di sekolah ini, saya mengimpikan bahwa di sela-sela kesibukan saya mengajar (bayangkan 36 jam pelajaran per minggu) saya masih bisa menghasilkan tulisan-tulisan untuk dipublikasikan. Waktu itu….. rasa-rasanya tidak mungkin. Alasannya klasik, sebagaimana alasan-alasan orang lain : tidak punya waktu, tidak punya ide. Buntu!

Karena panggilan tanggung jawab saya sebagai seorang guru yang harus memberikan contoh, dan kebetulan saya mendapat tugas untuk mengajari anak-anak keterampilan berbahasa, saya mencoba mencari cara untuk tetap menghasilkan karya di sela-sela kesibukan saya mengajar di kelas. Dan pada akhirnya, saya menemukan sebuah “kunci” untuk berkarya. Kunci itu adalah apa yang disebut kreativitas dalam mengolah hal-hal sederhana menjadi sedikit istimewa.  Contoh, suatu kali saya masuk kelas kemudian melihat seorang siswi yang kancing baju bagian atasnya lepas. Saya tegur dia. Ternyata……….. peristiwa itu bisa jadi puisi. Mau tahu puisinya? Baca Lanjutannya…

Oleh: agsuyoto | Januari 17, 2008

MENULIS CERPEN (BAG PERTAMA)

MENULIS CERITA PENDEK (Bagian Pertama)

Siapa yang tidak bangga jika cerpennya dimuat di majalah Kawanku, Gadis, Hai, atau mungkin di surat kabar Kedaulatan Rakyat, Kompas? Kiranya tidak ada yang tidak senang. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh mulai dari diberi ucapan selamat dari teman-temannya, diberi predikat baru sebagai “sastrawan”, mendapat honorarium, dan mungkin guru Bahasa Indonesianya memberikan “bonus” nilai.

Kemampuan menulis karya sastra pada satu sisi diyakini sebagai sebuah bakat yang nota bene dibawa seseorang sejak lahir, namun pada sisi lain diyakini sebagai sebuah hasil belajar. Dari berbagai sharing pengalaman dari orang-orang yang sudah menghasilkan karya sastra, sebagian besar di antaranya mengatakan bahwa kemampuan mereka lebih banyak ditentukan oleh latihan, latihan, dan latihan.  Kalau dibuat perbandingan, factor bakat hanya memberikan kontribusi 10-15%, sedangkan selebihnya adalah factor belajar dan latihan.  Baca Lanjutannya…

Kategori